Oleh: Hevi Hellen Sofia, S.Pd.I
(Kamad MTs Muhammadiyah Sukarame-Bandar Lampung)


A. PENDAHULUAN


Membentuk jiwa yang memiliki spiritual harus memlalui proses penanaman sifat, watak dan nilai-nilai keislaman sebagai bentuk ikhtiyariyah manusia dalam membentuk jiwa yang memiliki pondasi keimanan sebagai fundemental aqidah yang benar. Sebagai orang yang beriman akan dilihat melalaui tingkah laku dan seluruh perbuatan yang didasarkan adab dan akhlak sebagai dasar dalam menjalankan syariat Allah swt. Aqidah yang memiliki kekuatan batin, dengan dikuatkan melalui jasmani akan selalu tergerak kepada perbuatan yang baik dan benar (Sani, 2016).
Pendidikan yang memberikan nilai-nilai dalam bertingkah laku sesuai dengan spiritual adalah pendidikan yang mengacu dalam proses penanaman Aqidah dan Akhlak yang kuat. Pendidikan Agama Islam memberikan nilai pada kehidupan peserta didik untuk berbuat dan bertingkah laku sesuai tuntunan syariat. Peserta didik mulai ditanamkan kepekaan (sensibility) untuk mulai mencari kebeneran dalam bertindak, bukan hanya menanamkan kekuatan intelektual saja, namun juga memahami secara benar aqidah yang mendalam. Tantangan besar bagi pendidik untuk tidak hanya menanamkan pendidikan umum, namun terlebih memperhatikan pendidikan adab peserta didik yang mendasrkan berpedoman kepada syariat Islam Al-Qur’an dan Hadis NabI Muhammad saw (Koesoema, 2010).
Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional Nomor 20 Tahun 2003 menerangkan, bahwa tujuan dari pendidikan adalah menanamkan dan mengembangkan kualitas dan potensi peserta didik agar menjadi manusia Indonesia yang seutuhnya dengan memiliki keimanan dan ketaqwaan keda Tuhan yang Maha Esa, memiliki pengetahuan, keterampilan, berbudi pekerti yang luhur, sehat jasmani dan rohani, kepribadian yang cerdas dan memiliki tanggung jawab yang baik (Daulay, 2012).
Peserta didik adalah mereka yang sedang berproses dalam belajar untuk memenuhi kebutuhan intelektual yang baik, maka kewajiban pendidik adalah untuk memberikan pendidikan agama kepada peserta didik dalam rangka menguatkan keimanan dan ketaqwaan peserta didik. Problematika yang muncul dalam pendidikan Agama Islam tetap ada dalam pengaruh nilai-nilai yang ditanamkan, baik dalam faktor pemahaman nilai-nilai agama ataupun dalam motivasi peserta didik. Pada dasarnya pendidikan agama Islam adalah pendidikkan moral dan nilai. Oleh karena itu, pendidikan agama yang efektif lebih kepada kebiasaan, pembiasaan dan penerapan pada praktik ibadah yang sesuai dengan tuntunan syariatv (Daulay, 2019).
Pendidikan Agama akan berpengaruh kuat tergantung pada penerapan dan karakteristik pendidikan agama yang diberikan oleh lembaga sekolah, apabila pendidikan agama itu lebih diutamakan dalam penerapannya untuk diaplikasikan dalam setiap aspek, maka bisa dijamin pendidikan agama tersebut baik, namun sebaliknya apabila penerapan pendidikan itu lemah, maka bisa dipastikan moralitas peserta didiknya juga lemah. Hal ini disebabkan, dalam konsep Islam sekolah adalah sebagai tempat dan media dalam merealisasikan dan mengaplikasikan nilai keislaman, baik aqidah dan akhlak pada peserta didik. Apabila penerapan itu secara terus menerus dilakukan maka peserta didik akan mendapatkan pembiasaan berprilaku sebagai makhluk spiritual (Pulungan, 2019).
Menerapkan pendidikan yang berbasis agama untuk mengembangkan potensi moral tidak hanya di sekolah saja. Namun, pendidikan agama Islam juga sangat penting dan harus tersampaikan pada lingkungan keluarga dan masyarakat. Pendidikan yang berproses di sekolah adalah sebagai tanggung jawab guru. Maka, guru yang menyampaikan materi pedidikan agama Islam juga harus memiliki kepekaan terhadap suasana yang terjadi didalm kelas dan yang terjadi pada peserta didik. Penting kiranya, setiap pendidik memiliki variatif dan inovatif dalam mendidik, sehingga peserta didik tidak merasakan kebosanan (Wahyudi, 2017).
Melalui beberapa problematika dan fenomena tersebut, maka penelis menganggap perlu adanya tindak lanjut dalam memberikan masukan dan memberikan wawasan dalam penerapan pembelajaran yang berbasis agama Islam dalam rangka untuk membentuk karakter peserta didik yang lebih Islami, terutama di MTs Muhammadiyah Sukarame, Bandar Lampung. Maka adanya penelitian ini guna melihat bagaimana setrategi yang diterapkan oleh pendidik untuk menghasilkan kader Muhammadiyah yang handal dan menjadi kader yang memiliki karakter yang baik dalam Iman, Aqidah, dan Akhlaknya.


B. KERANGKA TEORI


1. Konsep Strategi Pembelajaran


Strategi dikenal pertama kali pada dunia militer yang sering sekali muncul untuk membahas bagaimana caranya menang ketika menghadapi musuh atau lawannya. Pemimpin atau komandan yang memiliki pasukan untuk menjalankan strategi dalam peperangan akan banyak mempertimbangan, baik itu dalam kualitas dan kuantitas pasukannya bahkan harus juga bisa menganalisis kekuatan musuh. Sehingga strateginya dapat berjalan dengan sempurna dan menghasilkan kesuksesan (Nata, 2014).
Sedangkan dalam dunia pendidikan, strategi dapat diartikan sebagai suatu rancangan yang mencangkup rangkaian kegiatan yang memiliki desain untuk mencapai tujuan pendidikan, “a plan, method, or series of activities designed to achieves a particular educational goal”. Sedangkan pengertian pembelajaran dapat dimaknai sebagai kegitan yang dilalukan oleh pendidik untuk mentransfer dan mengajarkan materi dan pengetahuan kepada peserta didik secara terus menerus sehingga tercapai tujuan pendidikan tersebut (Rahmat, 2019).
Pembelajaran adalah proses seorang pendidik atau guru ketika menanamkan dan membimbing peserta didik yang akan memunculkan komunikasi antara yang memberi materi dan yang diberikan materi, sehingga dengan proses ini akan dihasilkan generasi yang dapat memahami materi dengan baik. Pembelajaran adalah proses yang terjadi pada suatu lingkungan yang mengatur tingkah laku dan memberikan pengertian ilmu dalam kondisi-kondisi tertentu yang akan menghasilkan suatu proses tertentu, hal ini sesuai dengan pendapat Corey yang dikutip oleh Syaiful.


2. Pemilihan Strategi Pembelajaran


Proses penentuan pembelajaran yang baik adalah kewajiban bagi setiap pendidik, sehingga pembelajaran yang dilakukan dapat tumbuh di dalam jiwa peserta didik dengan memberikan aplikatifnya. Pembelajaran pada dasarnya dalah penambahan informasi dan materi pendidikan sehingga peserta didik dapat melaksanakan aturan-aturan yang ditetapkan dan dapat berkembang dengan baik. Maka perlu memilihi Strategi pendidikan yang cocok, efektif dan efisien. Proses pembelajaran yang baik adalah ketika materi yang disampaikan mampu difahami dan di lakukan sebagai bukti dalam tingkah lakunya. Dengan demikian strategi pembelajaran harus melihat pada sisi kondisi peserta didik, pendidik juga tidak hanya memiliki strategi pembelajaran hanya satu, namun harus memiliki banyak strategi yang harus digunakan dalam rangka mencapi tujuan pembelajaran (Sunhaji, 2022).


3. Penerapan Strategi Pembelajaran


Penerapan strategi yang baik adalah yang dapat digunakan dan berjalan dengan baik, sehingga tujuannya kan tercapai. Setiap pasukan militer harus dapat menerima setrategi yang diberikan oleh kaptennya, dan setiap kapten atau komandan dalam dunia militer tidak hanya memiliki satu cara atau metode yang digunakan untuk mendapatkan tujuan. Begitu juga dapat terjadi pada pembelajaran yang dilakukan oleh pengajar dan pendidik, harus melihat dan menganalisis peserta didik untuk menentukan strategi yang baik untuk digunakan, sehingga strategi itu dapat dipahami dan dapat diterima oleh siswa atau peserta didik. Tujuan pembelajaran juga akan terpai dengan apa yang diinginkan. Maka, dengan demikian harus dipahami beberapa prinsip.


a. Berorientasi pada Tujuan


Pembelajaran yang baik adalah pembelajaran yang tercapai tujuannya, maka bagi pendidik harus menggukan strategi pembelajaran yang sesuai dan harus mempertimbangkan tujuan dari pembelajaran tersebut. Mengan demikian dapat dilihat secara pasti, keberhasilan suatu pendidikan adalah peserta didik mampu mencapi tujuan pembelajaran. Oleh karenanya, setiap pedidik wajib mempertimbangkan strategi pembelajarannya dengan tujuan pembelajaran, jika strateginya berjalan dengan rencana, maka tujuan pembelajaran yang telah disampaikan juga akan berjalan baik.


b. Aktivitas


Pembelajaran akan mendapat prilaku baik oleh setiap peserta didik dengan aktivitas psikis dan mentalnya karena strateginya tepat. Namun, banyak sekali guru atau pendidik yang terkecoh akan hal ini. Aktivitas yang dilakukan bukan hanya kativitas fisik saja atau aktifitas menghafal dan menambah informasi saja. Sehingga banyak peserta didik yang aktivitasnya baik padahal secara psikis dan mental mereka tidak baik. Seorang pendidik harus pandai dan cerdas untuk membaca situasi ini.


c. Individualis


Mendidik adalah tugas setiap pendidik untuk membentuk setiap individu agar memiliki kemampuan secara intelektual dan Adab. Dalam proses mendidik memang peserta didik dalam satu kelas memiliki beberapa kelompok, namun kewajiban pedidik adalah mendidik setiap individu yang harus difahami oleh setiap peserta didik. Perubahan prilaku baik peserta didik adalah adalah salah satu contoh tercapainya pendidikkan dengan baik. Oleh karena itu, setiap strategi yang digunakan itu berkualitas, maka sudah dipastikan tujuannya juga akan tercapai dengan kualitas yang sama.


d. Integritas


Mendidik harus difahami sebagai bentuk pengabdian terhadap pembinanaan dan pengembangan kecerdasaan anak bangsa. Mengajar tidak hanya mengembangkan kecerdasan kognitif yang bersifat ilmu pengetahuan umum saja, namun pendidikan juga harus meliputi pengembangan afektif dan psikomotorik serta yang paling mendasar adalah pendidikan aqidah, ibadah dan akhlak sebagai dasar hidup manusia. Dengan demikian strategi pendidikan harus dapat masuk dalam pemhaman diri peserta didik dari segala aspek sehingga terwujud sebagai pribadi dan peserta didik yang terintregrasi.


4. Pendidikan Agama Islam


Pemahaman pendidikan agama Islam harus digalih secara untuh dan ada beberapa pengertian serta pembahasan terkait pendidikan menurut agama Islam.
a. Dalam Buku Pendidikan Agama Islam Berbasis Kompetensi, menurut Abdul Majid dan Diyan Andayani, dijelaskan bahwa pendidikan agama Islam adalah usaha dan proses dalam mendidik dan menjelaskan kepada peserta didik untuk mengenal, menghayati, memhami dan mengimani ajaran agama Islam. Dalam proses mendidik juga harus mencangkup masalah pendidikan agama yang saling menghormati dan hubungan atar umat beragama. Pada dasarnya, pendidikan agama Islam adalah aktivitas yang seharusnya menjadi kewajiban untuk membentuk pribadi yang lebih baik dan Islami (Asfiati, 2020).
b. Pendidikan Agama Islam adalah suatu usaha yang dilakukan oleh pendidik untuk mendidik peserta didik dalam memahami dasar-dasar ilmu agama secara menyeluruh, sehingga terwujudnya manusia yang Islami secara Aqidah, ibadah dan Akhlaknya. Pendidikan Agama Islam tidak hanya menjadi bahan Ilmu, namun juga sebagai dasar pendidikan yang akan menuntun peserta didik untuk memahami dan menjadikan Agama Islam sebagai pedoman hidupnya. Dengan demikian akan terwujud secara menyeluruh tujuan pendidikan agama Islam. Pegertian ini sesuai dengan yang dikutip oleh Abdul Majid dan Diyan Andayani.
c. Pendidikan Agama Islam secara esensi dapat difahami bahwa proses mendidik adanya transfer ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan nilai-nilai Islam terkait dengan Ibadah dan akhlak. Dalam prosesnya tidak hanya mendidik secara aplikatif namun juga mendidik melalui ilmu pegetahuan terkait pendidikan agama Islam itu sendiri (Afsiati, 2020).


5. Pribadi Muslim yang Islami


a. Pengertian Pribadi Muslim yang Islami


Kepribadian secara etimologi berasa dari kata “pribadi”yang memiliki makna perseorangan manusia, juga mencangkup seluruh watak manusia, keadaan seorang manusia. Dalam hal ini juga dapat difahami bahwa kata kepribadian terdapat kata imbuhan “Ke” dan “An” yang memiliki makna hakiki, artinya kepribadian adalah bentuk perseorangan manusia dalam eksistenya mengamalkan perilaku yang dapat membedakan dirinya dengan orang lain.
secara istilah kata kepribadian memiliki makna sebagai karakteristik atau ciri, gaya dan sifat seseorang terhadap dampak dari lingkungan yang mempengaruhinya, baik lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat. Kepribadian yang baik merupakan dampak dari lingkungan yang baik juga, maka dalam Islam jelas, lingkungan yang menjadi pendidikan awal hidup seseorang adalah keluarga, maka tugas terbesar keluarga adalah membimbing dan mendidik keluarganya dalam kebaikan. Lingkungan kedua setelah keluarga adalah masjid, di masjid dapat membing kepribadian manusia menjadi manusia yang benar-benar mengenal Allah swt dan segala peraturannya. Lalu pendidikan yang ketiga adalah sekolah yang membantu menanamkan ilmu pengetahuan dan moral dalam kehidupan. Sedangkan lingkungan yang keempat adalah masyarakat, hidup bermasyarakat sangat penting dalam membangun kepribadian yang sosialis, saling membantu dan saling menghargai (Ismail, 2013).
Jika keempat pendidikan itu terlaknasana dengan baik, pendidikan yang ada disekolah akan juga lebih efektif, karena pembentukan kpribadian peserta didik yang paling mendasar telah ditanamkan oleh keluarga dan lingkungan masjid. Membentuk kepribadian muslim yang utuh memiliki proses yang panjang, sehingga peserta didik menjadi terbiasa menjadi insan yang senantiasa memiliki ketaqwaan dan keimanan kepada Allah swt. Maka juga penting antara orang tua dan pendidik disekolah untuk saling mendukung dan kordinasi yang sifatnya saling meningkatkan kepribadian peserta didik untuk menjadi manusia yang memiliki kepribadian yang baik. Tidak ada lagi tidak saling percaya antara orang tua dan pendidik yang ada disekolah. Orang tua juga benar-benar harus menjadi aktor dalam hal ini disamping pendidik yang bertugas di sekolah (Qu’ayyid, 2015).
Kepribadian seseorang dapat dilihat melalui empat aspek, diantaranya aspek personalia yang me nitik beratkan kepada segala bentuk tingkah laku seseorang, aspek individualis yang terlihat pada sifat, karakteristik yang dimiliki seseorang yang memiliki perbedaan yang individu yang lainnya, aspek mentalis yang sangat terlihat memalui cara berpikir seseorang dan aspek identitas yang dapat terlihat melalui sikap seseorang atas kecenderungannya untuk mempertahankan pengaruh terhdap orang lain dan identitas merupakan karakteristik seseorang.
Kepribadian yang islami adalah kepribadian yang dimiliki setiap orang muslim. Kepribadian yang Islam adalah segala bentuk perbuatan, sifat, kekhasan, karakteristik dan seluruh tingkah laku seseorang yang didasari atas pedoman umat Islam yaitu Al-Qur’an dan Hadis. Membentuk generasi dan peserta didik adalah kewajiban semua pendidik sebagai karakteristik Islam yang mengajarkan kebaikan dan menjunjung tinggi kepekaan terhadap nilai-nilai agama Islam. Peserta didik yang memiliki jiwa Islami akan senantiasa mengarahkan dirinya kepada kebaikan. Maka perlu ditanamkan kepada peserta didik dan generasi sekranag dengan beberapa struktur kepribadian yang Islami.


b. Struktur Kepribadian Muslim yang Islami


Struktur kepribadian muslim yang Islami ini merupakan aspek-aspek dalam membangun dan menamkan kepribadian peserta didik dalam tumbuh dan kembang diatas nilai-nilai Islam. Dengan aspek-aspek tersebut akan mudah mendidik peserta didik untuk menanamkan kepribadian yang dilandaskan Al-Qur’an dan Hadis Nabi Muhammad Saw. Maka ada beberapa aspek yang harus diperhatikan, di antaranya:
1) Aqidah Islam
Aqidah Islam adalah keyakinan didalam hati manusia untuk mengakui bahwa tuhan satu-satunya dan tidak ada yang adalah Allah swt. Sebagai Tuhan semesta Alam, sebagai Tuhan yang berhak disembah. Syarat utama menamkan aqidah Islam didalam hati dan dilaksanakan melalui perbuatan ini adalah dengan cara membaca dua kalimat syahadat dan mengikuti semua aturan dalam Islam dan meninggalkan segala yang dilarang dalam Islam, hal ini disebut Iman dan Taqwa.
2) Ibadah
Ibadah adalah bentuk pengabdian seorang hamba kepada Rabb-Nya, dengan menyerahkan diri dihadapannya seraya memohon ampun kepada-Nya. Dalam Islam Ibadah yang paling utama setidaknya ada lima secara khusus yaitu terdapat pada rukun Islam. Namun, setelah seorang hamba mengimani Allah swt, maka wajib melaknasakan Ibadah kepada Allah swt yang sifatnya wajib dan Sunnah yang datangnya melalui Rasullah saw.
3) Akhlak
Terbentuknya Akhlak yang Islami didasari pendidikan Aqidah yang sebelumnya tertanam didlam jiwa manusia, juga pendidikan ibadah yang Istiqomah dilaksanakan oleh setiap individu. Tingkah laku setiap muslim akan ternilai melalui akhlaknya. Juga adab dan moral yang tertanam didalam jiwa itu baik, maka sudah dipastikan pendidikan nakhlaknya juga akan baik. Akhlak sagatlah nampak dalam pandangan manusia, maka kepribadian Islami yang paling nampak adalah akhlaknya.
4) Muammalah
Muammalah adalah segala bentuk kegiatan manusia dalam bermasyarakat pada umumnya, dan pada khususnya ada ibadah-ibadah yang ada aturannya secara Islam. Kegiatan sosial masyarakat juga merupakan bentuk muammalat seorang hamba, maka berbuat baiklah dilingkungan masyarakat. Melakukan transaksi, jual beli dan lain sebagainya juga merupakan bentuk muammalat, maka laksanakan sesuai tuntuanan syariat Islam.


C. METODE PENELITIAN


Penelitian ini adalah penelirian yang menggunakan kualitatif, penelitian kualitatif sendiri penelitian yang didapati hasil melalui buku atau dokumen tertulis dan lisan melalui interview atau wawancara. Penelitian ini menggunakan dua jenis sumber data penelitian, yaitu primer, melalui data lapangan, pengamatan dan interview guru pendidikan Agama Islam di MTs Muhammadiyah Sukarame, Data Skunder melalui beberapa buku dan karya tertulis, profil sekolah, kurikulum sekolah dan output yang dihasilkan. Teknik pengumpulan data pada penelitian ini adalah observasi dan setelahnya tentu melalui tahapan reduksi dan verifikasi data (Ismayani, 2012).


D. HASIL PENELITIAN


1. Strategi Pendidikan Agama Islam pada Pembelajaran Pendidikan Agama Islam dalam Membentuk Kepribadian Islami di MTs Muhammadiyah Sukarame


Pendidik harus memhami dirinya memiliki kewajiban dan tanggung jawab untuk mendidik dengan tujuan membentuk peserta didik menjadi manusia yang cerdas dan beriman. Setiap pendidik, disamping memiliki kewajiban mendidik dan mengajar, juga harus mehami tujuan pendidikan dan capain pembelajaran yang harus tercapai. Capain pembelajaran diantaranya ada tiga aspek, capaian kognitig, psikomotorik dan afektif (Octavia, 2021).
Pembelajaran Pendidikan Agama Islam di MTs Muhammadiyah Sukarame menggunakan kurikulum Kemenag dan juga dipadukan dengan kurikulum pondok pesantren serta menggunakan kurikulum pendidikkan Al-Islam, Kemuhammadiyahan dan Bahsa Arab milik Muhammadiyah (Ismuba). Sehingga dalam rangka membentuk peserta didik yang memiliki kepribadian yang Islami seharusnya mudah untuk dilaksanakan. Namun, dalam pembelajaran yang tujuan utamanya membentuk karakter, pasti memiliki proses yang panjang. Sehingga diperlukan banyak strategi dan metode pembelajaran yang digunakan. Oleh karena itu terdapat beberapa strategi pembelajaran yang diterapkan di MTs Muhammadiyah Sukarame.


1. Direct Instruction (Pembelajaran Langsung)


Pembelajaran langsung adalah pembelajaran yang dilaksanakan didalam kelas. Pembelajaran ini lebih tertata secara sistematis dengan materi yang terencana. Pembelajaran langsung lebih mengutaman proses konsep dan motorik siswa, sehingga pembelajaran yang terlaksana akan langsung diterima oleh siswa (Lutfi, 2020).
Sukses dan tidak suksesnya pembelajaran tergantung dengan metode atau strategi pembelajaran yang digunakan. MTs Muhammadiyah Sukarame banyak menggunakan metode dalam penyampaian pembelajaran guna memaksimalkan hasilnya atau tujuannya. Begitu pentingnya materi pendidikan agama Islam sehingga harus benar-benar menggunakan metode yang tepat. Sehingga, pembelajaran akan berjalan dengan baik, dan tujuan membentuk pribadi yang Islami akan mudah terlaksana. Beberapa mata pelajaran pendidikan Islam memiliki beberapa metode yang digunakan di MTs Muhammadiyah Sukarame. Di antaranya metode persuasif, metode kisah yang berisi tentang targhib dan tarhib, metode pengambilan pelajaran dan peringatan atau nasihat.


a. Metode Persuasif


Pendekatan yang dilakukan oleh pendidik kepada peserta didik untuk melihat kondisi, motivasi, latar belakang pendidikan sebelumnya, kecerdasan dan spiritual. Hal ini yang akan menjadi dasar pembelajaran dan tindak lanjut oleh pendidik untuk menentukan pembelajaran apa yang cocok dan metode apa yang tepat u ntuk diterapkan (Lutfi, 2020).


b. Metode Targhib dan Tarhib dari Kisah


Kisah yang biasa disampaikan oleh pendidik di MTs Muhammadiyah Sukarame adalah kisah tentang Israiliyat dan kisah-kisah tentang keislaman. Hal ini dilakukan dengan tujuan, peserta didik mampu memhami dan mnjelaskan, bahwa pendidikan Islam begitu luas, sehingga peserta didik mampu mengambil hikmah dan pelajaran dari kisah tersebut. membentuk kepribadian yang Islami juga dapat mengaplikasikan kisah-kisah yang disampaikan oleh pendidik. Kisah yang disampaikan oleh pendidik tidak hanya kisah-kisah yang berbau keislaman, namun juga kisah yang diluar Islam juga penting (Izzan, 2012). Begitulah yang menjadi kewajiban bagi pendidik di MTs Muhammadiyah Sukarame, harus memiliki pengetahuan yang luas, sehingga dapat mentrasfer ilmu kepada peserta didik dengan sebanyak-banyaknya. Maka, salah satu syarat menjadi guru di MTs Muhammadiyah Sukarame adalah harus memiliki referensi atau wawasan yang luas disisi lain Aqidah yang salim sesuai dengan ibadah yang telah tercatat dalam Tarjih Muhammadiyah.
Secara bahasa kata Targhib berasal dari bahasa Arab yang memiliki makna membujuk atau menjadi suka sedangkan kata Tarhib memiliki makna menakuti. Secara Istilah dapat difahami dari dua kata ini, mengajak kepada peserta didik untuk senantiasa senang atau suka kepada perbuatan yang baik, maka didalam kisah akan selalu mengisahkan kebaikan dan keberkahan baik orang yang senantiasa berbuat baik. Begitu juga untuk perbuatan buruk akan mendapatkan keburukan sesuai dengan yang dilakukan. Sedangkan acaman akan berlaku bagi siapa yang melakukan perbuatan buru, maka didalam kisah banyak sekali yang bercerita tentang ancaman yang mengerikan jika berbuat keburukan (Nata, 2016).


c. Metode Pengambilan Pelajaran dan Peringatan atau Nasihat


Salah satu metode yang efektif dalam pembelajaran dengan tujuan membentuk kepribadian yang Islami peserta didik adalah dengan menggunakan metode pengambilan pelajaran dan peringatan. Dalam Al-Qur’an, Hadis dan dalam Sirah Nabawiyyah serta berbagai sejara Islam dapat dijadikan sebagai objek dalam pengambilan pelajaran dan peringatan. Pengambilan pelajaran dan peringatan yang paling efektif juga dapat dilakukan dengan mempelajari atau mentadaburi Al-Qur’an dan Hadis Rasulullah saw. Dari dua dasar ini yang juga sebagai pedoman umat, maka akan didapati berbagai pelajaran dan peringatan. Tidak hanya didalam Al-Qur’an saja, namun juga dari berbagai referensi lainnya juga. Oleh karena itu, pembelajaran dan peringatan itu dapat teraplikasi dalam kehidupan sehari-hari untuk membentuk pribadi yang Islami (Afsiati, 2020).
Pengambilan pelajaran dan peringatan juga paling khusus dapat diaplikasikan pembelajaran Indirect instruction atau pembelajaran tidak langsung. Pembelajaran ini sangat efektif untuk melatih peserta didik untuk observasi, penyelidikan, pembentukan hipotesis dan lainnya. Sedangkan tugas guru adalah sebagai fasilitator peserta didik. Pembelajaran ini juga peserta didik dituntut untuk semakin berfikir dalam mengambil pelajaran dalam segi apapun, baik dalam kehidupan atau juga dapat difahami untuk memecahkan suatu masalah, sehingga cara berfikir peserta didik semakin luas. Dengan ini, peserta didik akan semakin terbiasa melihat masalah-masalah yang dapat diselesaikan secara aktual dan efektif.
MTs Muhammadiyah Sukarame yang merupakan madrasah berbasis al-islami as-syar’i, selalu menerapkan metode pengambilan pelajaran dan peringatan kepada peserta didik. Sehingga penerepan ini akan senantiasa dilaksanakan dalam lingkungan sekolah dan harus dilaksanakan dalam kehidupan sehari-hari.
a. Sanksi
Membangun dan menanamkan pribadi yang Islami dalam diri peserta didik memerlukan proses yang panjang. Proses ini juga akan mendapat beberapa rintangan, salah satunya adalah dengan adanya tindakan dan tingkah laku peserta didik yang diluar peraturan dan pembelajaran. Misalnya, dapat diketahui prilaku peserta didik dengan tidak memakai pakaian sesuai ajaran Islam, merokok, maksiat, pacaran, mencuri dan lain sebagainya. Tindakan seperti ini tentu akan ditindak lanjuti dengan pemberian sanksi kepada peserta didik. Di MTs Muhammadiyah Sukarame pemberian sanksi harus sanksi yang mendidik. Diantaranya menghafal Al-Qur’an, Hadis, kata-kata mutiara, mebersihkan lingkungan sekolah dan yang lainnya.
Pendidik harus memperhatikan kegiatan peserta didik baik didalam sekolah ataupun di luar sekolah, karena keberhasilan peserta didik juga harus diperhatikan ketika di luar sekolah. Setiap pendidik memiliki tanggung jawab yang besar atas segala kegiatan yang diberikan kepada peserta didik. Dengan demikian akan mudah membentuk dan menumbuhkan kepribadian Islami didalam jiwa peserta didik.


2. Faktor Pendukung dan Penghambat Strategi Pendidikan Agama Islam pada Pembelajaran Agama Islam dalam Rangka Membentuk Kepribadian yang Islami di MTs Muhammadiyah Sukarame


a. Faktor Pendukung


Akal yang sehat menurut Muhammad Iqbal adalah akal yang digunakan untuk berfikir yang sempurna, relitis, sistematis, aktual dan kritis untuk merancang segala bentuk kegitan, sehingga dengannya akan mudah terlaksana dengan baik. Peserta didik di MTs Muhammadiyah Sukarame dituntut untuk menggunakan akal Pikirannya yang telah diberikan oleh Allah swt, salah satunya dengan menggunakan akalnya untuk menghafl Al-Qur’an. MTs Muhammadiyah Sukarae memiliki beberapa kegiatan yang dapat menunjang kepribadian peserta didik yang Islami.
1) Ibadah
Menanamkan kepribadian yang Islami di MTs Muhammadiyah Sukarame segala kegiatan terkait ibadah diatur oleh ISMUBA (Al-Islam, Kemuhammadiyahan dan Bahasa Arab. Ismuba MTs Muhammadiyah memiliki banyak tupoksi yang akan dilaksanakan sesuai dengan kewajibannya, diantaranya adalah kegiatan rutin AIK (Al-Islam dan Kemuhammadiyah) yang menanamkan pembelajaran, Aqidah, Akhlak, Fikih, Sirah dan Kemuhammadiyahan. Pembelajaran Pendidikan Agama Islam di MTs Muhammadiyah Sukarame dibagi menjadi beberapa mata pelajaran, diantaranya, Al-Qur’an, Hadis, Aqidah, Akhlak, Sejarah Islam, Fikih, Bahasa Arab, Kemuhammadiyahan dan Tahfidz Al-Qur’an.
Mata pelajaran Pendidikan Agama Islam di MTs Muhammadiyah memiliki tujuan yang sama, yaitu membentuk dan menjadikan generasi yang Islami. Sehingga Pembelajaran Pendidikan Agama Islam memiliki tim yang akan membahas materi yang diajarkan. Terlebih dalam Muhammadiyah juga memiliki materi ajar yang juga relevan dalam membentuk peserta didik yang berjiwa Islami, diantaranya ada pembelajaran Muqaddimah Anggaran Dasar Muhammadiyah, MKCHM, Idelogi Muhammadiyah, 12 Langkah Muhammadiyah dan lainnya. Kegiatan-kegiatan tersebut dapat diaplikasikan dengan beberapa kegiatan, diantaranya.
2) AIK (Al-Islam dan Kemuhammadiyahan)
Materi AIK disampikan oleh koordinator ISMUBA, dengan materi keislaman yang mencangkup beberapa mata pelajaran Agama Islam. Sedangkan materi Khusus yang disampaikan adalah materi Fikih (Thaharah : Wudhu, Tayamum, Mandi Janabah, Shalat: Shalat Fardu, Shalat Munfarid dan Jama’ah dan Shalat Janaiz). Dengan metri ini tujuannya supaya peserta didik mampu ibadah dengan benar,
3) Shalat Berjama’ah
MTs Muhammadiyah memiliki gedung ibadah milik sendiru, sehingga melaksanakan ibadah selalu di masjid, diantaranya pembiasaan shalat Dhuha berjamaah yang dilanjutkan pembiasaan tadarus, kultum dan pembinaan dari pendidik. Shalat Dzuhur dan Ashar berjamaah dan dilanjutkan kultum siswa untuk melatih kedisiplianan dan keberanian dan beribadah.
4) Kegiatan Keislaman yang Sitematis
Kegiatan keislaman di MTs Muhammadiyah Sukarame sangat sistematis. Terlebih segala bentuk kegiatan keislaman di MTs Muhammadiyah telah tersusun dalam tupoksi Koordinator ISMUBA. Sehingga ketika ada perayaan Islam akan terlaksana dengan baik.
5) Pembiasaan Saling Tegur Sapa di MTs Muhammadiyah Sukarame
Selain dianjurkan dalam Agama Islam, tegur sapa di MTs Muhammadiyah selalu terlaksana, salah satunya peyambutan peserta didik oleh dewan guru di depan gerbang MTs Muhammadiyah. Tujuannya adalah untuk membiasakan menjadi pribadi yang Islami yang senantiasa bertegur sapa. Disisi lain, MTs Muhammadiyah adalah madrasah yang memiliki kedisipilan yang tinggi, hal ini dapat dibuktikan dengan kepribadian dewan pendidik yang selalu disiplin. Disiplin dalam ibadah dan disiplin dalam mendidik.
6) Kegiatan Keputrian
Hari jum’at adalah hari ibadah bagi umat Islam, peserta didik yang laki-laki melaksanakan shalat Jum’at secara berjamaah, sedangkan yang putri melaksnakan kegiatan keputrian yang didampingi langsung oleh Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM). Materi yang disampaikan adalah materi tentang keislaman dan kewanitaan.
7) Pengajian
Kegiatan pengajian di MTs Muhammadiyah Sukarame menjadi kegiatan wajib bagi seluruh pendidik. ada beberapa pengajian yang selalu diikuti oleh dewan guru diantara, pengajian bulanan guru, pengajian pimpinan cabang Muhammadiyah, pengajian pimpinan daerah Muhammadiyah dan pengajian Pimpinan wilayah Muhammadiyah. Sedangkan pengajian yang diikuti oleh peserta didik adalah pegajian yang dilaksanakan oleh IPM.
8) Kerja Sama antar Pendidik
Kekuatan dalam membentuk komitmen antar pendidik untuk mensinergikan kerja sama dalam rangka membentuk generasi yang kuat akan IMTAQ dan kuat wawasannya dalam IPTEK akan membantu menanamkan kepribadian yang Islami. MTs Muhammadiyah dalam perkembangannya selalu tercatat komitmen pendidk selama kegiatan pembelajaran itu berjalan. Sehingga pendidik di MTs Muhammadiyah Sukarame memiliki komitmen untuk bersama-sama mencerdaskan peserta didik dalam ilmu pengetahuan dan terlebih ilmu Agama Islam.
Kerja sama antar pendidik tidak hanya terlaksana di lingkungan sekolah saja, namun kerja sama ini akan terus berlanjut di luar dan di dalam lingkungan sekolah. Banyak siswa dari MTs Muhammadiyah mengatakan bahwa dia takut untuk melakukan perbuatan yang dilarang oleh sekolah, karena itu melanggar peraturan, baik di dalam ataupun di lauar sekolah.
Kerja sama antar pendidik juga dilakukan dalam melaksanakan dan pemberian sanksi kepada peserta didik. Sehingga tidak ada lagi pendidik melindungi dan pilih kasih terhadap peserta didik. MTs Muhammadiyah Sukarame selalu meberikan sanksi kepada siapa saja yang melanggar peraturan sekolah.
9) Lingkungan
Sekiaranya terdapat empat lingkungan yang sangat mempengaruhi kepribadian peserta didik, diantaranya lingkungan keluarga yang menjadi lingkungan pendidikan pertama yang diterima oleh setiap anak. Ada Lingkungan Masjid sebagai pendidikan keimanan dan ibadah setiap anak, lingkungan sekolah sebagai lingkungan pendidikan formal dan lingkungan masyarakat sebagai lingkungan muammalat dan sosial anak. Pendidikan yang terlaksana di sekolah dibatasi oleh waktu, selebihnya pendidikan yang paling dekat dengan peserta didik adalah lingkungan keluarga, masjid dan masyarakat. Dengan demikian, jika ketiga lingkungan tersebut baik maka, pendidikan yang berasal dari pendidikan formal dapat diaplikasikan dengan baik. Begitu juga pendidikan yang lainnya yang mungkin tidak dapat terlihat oleh setiap keluarga bahkan guru dapat dipastikan baik jika pribadi tersebut tertanam pendidikan dengan baik atau bahkan sebaliknya.
MTs Muhammadiyah Sukarame selalu menanamkan pendidikan formal sesuai tujuan pendidikan, juga melaksanakan pendidikan agama Islam sebagai wujud membentuk jiwa peserta didik yang Islami. Pendekatan tetsebut melalui perangkat sekolah, mulai dari wakil kepala kesiswaan dan kepala bimbingan konseling. Sehingga di MTs Muhammadiyah Sukarame selalu menawarkan pendidikan yang aman. Maksudnya aman dalam pendidikan ilmu pengetahuan dan teknologi terlebih aman dalam pendidikan Iman dan Taqwa.


b. Faktor Penghambat


1) Kurangnya Kesadaran dari Peserta Didik dalam Memahami Konsep Menjadi Pribadi yang Islami
Sebenarnya secara menyeluruh peserta didik berada di lingkungan sekolah tidak semuannya benar-benar ingin belajar. Namun, sebagaian besar peserta didik hanya mengindahkan kewajiban sebagai anak untuk menjalankan pendidikan. Tidak lebih dari itu, peserta didik tidak akan memperhatikan apa yang disampaikan oleh pendidik ketika proses pembelajaran berlangsung. Sehingga materi pendidikan yang disampaikan tidak tercerna secara utuh. Sehingga ketika peserta didik telah keluar dari lingkungan sekolah seakan tidak ada lagi pengawasan yang dilakukan seperti di lingkungan sekolah, maka segala aktivitas yang keluar dari aturan mudah dilakukan.
2) Lingkungan Keluarga dan Masyarakat dan Perkembangan Teknologi
Lingkungan keluarga yang tidak memahami konsep pendidikan secara utuh juga akan menimbulkan kesulitan tersendiri. Ketika pendidikan itu diberikan di sekolah oleh pedidik dengan jelas dan sistematis, namun ketika pulang ke rumah peserta didik tidak dapat mengaplikasikan pendidikan tersebut, maka akan mudah terbawa oleh lingkungannya. Peserta didik akan mengikuti kebiasaan yang selalu dilakukan oleh lingkungan keliuargannya. Begitu juga dengan lingkungan masyarakat, apabila lingkungan masyarakatnya rusak, maka pendidikan juga akan pudar, atau sebaliknya jika lingkungan masyarakatnya itu baik dan dekat dengan lingkuingan masjid, maka akan mudah membentuk peserta didik yang memiliki pribadi Islami. Begitu juga dengan perkembangan teknologi yang semakin tidak terarah dan transparan. Sehingga peserta didik dapat mengakses yang diharamkan.


c. Hasil Penerapan Strategi Pembelajaran Pendidikan Agama Islam pada Pembelajaran Pendidikan Agama Islam di MTs Muhammadiyah Sukarame dalam Rangka Menanamkan Kepribadian Peserta Didik yang Islami


Menentukan hasil apakah strategi yang diterapkan itu masuk, cocok dan relevan mengat memiliki proses yang panjang. Karena keberhasilan metode atau strategi itu dapat dilihat melalui perkembangan Kognitif, Afektif dan Psikomotoriknya. Secara umumnya, pendidikan agama Islam itu dikatakan berhasil dapat dilihat melalui kebiasaan peserta didik dalam prilakunya sehari-hari. Perkembangan itu sangat mudah terlihat dan disimpulkan sebenarnya, namun juga memiliki proses yang panjang untuk menjadikan kebiasaan dan pribadi yang benar-benar Islami.
Beberapa wawancara yang dilaksakan dalam rangka mencari hasil dari penerapan strategi pembelajaran Islam telah dilakukan, nyatanya hasil dari penerapan strategi atau metode pendidikan tersebut tidak dapat dilihat langsung setelah materi pendidikan agama Islam diberikan. Karena, pembelajaran pendidikan Agama Islam tidak hanya sekedar memberikan materi saja, namun juga harus memahamkan kosep penghayatan di dalam diri peserta didik agar tumbuh sikap yang mencangkup kognitif, afektif dan psikomotorik. Bukan hanya ketiga sikap tersebut saja yang diperhatikan, namun dalam agama Islam juga harus diperhatikan sikap istiqomahnya atau kebiasaannya yang selalu terus menurus dilaksanakan.
Peserta didik yang sudah memiliki kepribadian yang Islami dapat dilihat melalui beberapa karakter:
1) Religius
Proses pembentukan dan penanaman pendidikan agama Islam yang menggunakan strategi yang efektif akan berdapak apada karakter religius sebagai berikut:
Pertama, shalat lima waktunya tidak lagi ditinggalkan, atau senantiaasa melaksanakan shalat lima waktu, senantiasa melaksanakan puasa wajib bahkan sunnah, bershadaqah, Infak dan zakat. Ini merupakan karakter yang paling mendasar yang harus dilihat kepada diri peserta didik. Shalat berjamaah bagi laki-laki dengan 5 waktu. Adalah kunci keberhasilan dari pembelajaran pendidikan agama Islam yang ditanamkan.
Kedua, dapat membaca al-Qur’an dengan hukum tajwid dan dapat memahami tulisannya dengan baik. Maka pembelajaran yang berlangsung tidak hanya materi secara teoritis saja yang disampaikan, namun juga praktik iman dan taqwanya melalui membaca dan memahami Al-Qur’an dan maknannya. MTs Muhammadiyah tidak hanya mengajarkan dalam pengembangan baca tulis Al-Qur’annya saja namun yang menjadi keunggulan MTs Muhammadiyah Sukarame adalah Talent of Tahfidz Al-Qur’an. Artinya lulusan MTs Muhammadiyah Sukarame harus memiliki hafalan yang banyak.
Ketiga, Adab dan Akhlak yang menjadi tolak ukur bagi prilaku peserta didik yang telah ditanamkan meteri keislaman. Apabila adab yang ditunjukan dan prilaku kesehariannya itu baik dan bagus maka pendidikan agama Islamnya dapat diterima dengan baik. Adap yang diaplikasikan tidak hanya dab pada orang lain saja, namun adab untuk siapapun dan dimanapun. Karena kata Firman Allah swt “Inna Akramakum Indalallah Atqokum”, yang artinya orang yang paling bagus dan mulia disisi Allah adalah yang paling baik akhlaknya (Elihami, 2018).
2) Disiplin
Selain Aqidah, Ibadah, akhlak, membaca al-Qur’an dan menghafal Al-Qur’an yang menjadi dasar keberhasilan dalam membentuk dan menanamkan kepribadian peserta didik yang Islami juga dapat dilihat kedisiplinannya. Disiplin dalam ibadah, disiplin dalam mengikuti dan menaati peraturan sekolah dan disiplin dalam saling menghargai sesama. MTs Muhammadiyah Sukarame juga menamkan karakter disiplin kepada setiap peserta didik untuk selalu menebarkan senyum dan sapa, bahkan agenda kedisiplinan MTs Muhammadiyah Sukarame dapat dilihat aktifitas setiap pagi yang dilakukan oleh pendidik menyambut kedatangan peserta didik. Dengan adanya kebiasaan ini, akan melatih disiplin kepada peserta didik (Daulay, 2019).
3) Mengharga Sesama
Kasus yang sering terjadi di lingkungan sekolah adalah kasus saling membulli. Hal ini harus segera dihilangkan dari lingkungan sekolah, karena membahakan psikis peserta didik. Oleh karena itu, siswa atau murid yang telah mendapatkan materi pembelajaran yang berbasis agama Islam secara baik akan mengaplikasikan dengan baik, artinya dapat saling menghargai antar sesama bahkan saling menginagtakan ketika berbuat salah dan selalu mengajak kebaikan dan mencegah kepada yang buruk. Dengan demikian maka kepribadian yang Islami bagi peserta didik akan tertanam dengan baik (Koesoema, 2010).


E. KESIMPULAN


Pengaplikasian proses pembelajaran pendidikan agama Islam dalam rangka menumbuhkan kepribadian yang Islami di MTs Muhammadiyah, melalui penelitian ini dapat disimpulkan. Satu, strategi pembelajaran yang digunakan dalam proses penanaman pendidikan agama Islam di MTs Muhammadiyah Sukarame menggunakan metode direct instruction atau pembelajaran langsung dan pembelajaran indirect instruction atau pembelajaran tidak langsung. Dalam proses menanamkan pengetahuan pendidikan Agama Islam terdapat dua faktor, pendukung dan penghambat. Faktor pendukung terdiri dari penerapan pendidikan Ismuba dan AIK, Aqidah, Ibadah, Adab dan Akhlak, Muammalah, di sisilain terdapat kebijakan sekolah terkait proses pendidikan Agama Islam, Kerjan sama antar pendidik, lingkungan Keluarga, Masjid, Sekolah dan Masyarakat serta perkembangan dunia teknologi yang semakin berkembang. Faktor penghambatnya mulai dari kurangnya pemhaman konsep pembentukan pribadi yang Islami oleh peserta didik, kurangnya perhatian dalam lingkungan keluarga dan masyarakat dan sulitnya penerapan strategi pembelajaran yang relevan. Sedangkan untuk melihat hasil pembentukan kepribadian peserta didik yang Islami dapat dilihat melalui perkembangan Religiusitasnya, mengenal Tuhan, Ibadah secara utuh, Baca Tulis Al-Qur’an, adab dan Akhlak, disiplin dan saling menghargai antar sesama.


Referensi
Afsiati. (2020). Visualisasi Dan Virtualisasi Pembelajaran Pendidikan Agama Islam. Jakarta: Pranada Media.
Asfiati. (2020). Redesign Pembelajaran Pendidikan Agama Islam Menuju Revolusi Industri 4.0. Jakarta: Prenada Media.
Daulay, H. P. (2012). Pendidikan Islam dalam sistem pendidikan nasional di Indonesia. Jakarta: Kharisma Putra Utama.
Daulay, H. P. (2019). Pendidikan Islam di Indonesia Historis dan Eksistensisnya. Jakarta: Kencana.
Elihami, E. (2018). Penerapan Pembelajaran Pendidikan Agama Islam dalam. Edumaspul Jurnal Pendidikan, 18.
Ismail, A. U. (2013). Pengembangan Diri Menjadi Pribadi Mulia. Jakarta: Elex Media Komputindo.
Ismayani, A. (2012). Metode Penelitian. Jakarta: Syiah Kuala University Press.
Izzan, A. (2012). TAFSIR PENDIDIKAN Konsep Pendidikan Al-Qur’an. Jakarta: Humaniora.
Koesoema, D. (2010). Pendidikan Karakter: Strategi Mendidik Anak di Zaman Global. Jakarta: PT Grasindo.
Lutfi. (2020). Metodologi Pembelajaran: Strategi, Pendekatan, Model, Metode Pembelajaran. 2020: IRDH Book Publisher.
Nata, A. (2014). Perspektif Islam Tentang Strategi Pembelajaran. Jakarta: Kencana.
Nata, A. (2016). Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta: Pranada Media.
Octavia, S. A. (2021). Profesionalisme Guru Dalam Memahami Perkembangan Peserta Didik. Jakarta: Deepublish.
Pulungan, S. (2019). Sejarah Pendidikan Agama Islam. Jakarta: Kencana.
Qu’ayyid, I. b. (2015). Menjadi Pribadi yang Sukses. Jakarta: Cakrawala Publishing.
Rahmat. (2019). Metode Pembelajaran Pendidikan Agama Islam Konteks Kurikulum 2013. Yogyakarta: Bening Pustaka.
Sani, R. A. (2016). Pendidikan Karakter: Mengembangkan Karakter Anak yang Islami. Jakarta: Sinar Grafika Offset.
Sunhaji. (2022). Pengembangan Strategi Pembelajaran Pendidikan Agama Islam Di Sekolah / Madrasah. Zahira Media Publisher: Jakarta.
Wahyudi, D. (2017). Pengantar Akidah Akhlak dan Pembelajarannya. Yogyakarta: Lintang Rasi Aksara Books.